بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Anjuran Menikah

Anjuran Untuk Menikah

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan, mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (meminang), cara mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberi nafqah), dan pembagian harta waris, semuanya telah diatur dalam Islam secara terperinci, dan detail. selanjutnya untuk memahami konsep pernikahan dalam islam, maka rujukan yang paling benar dan sah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. maka berdasarkan rujukan ini kita akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di dalam masyarakat kita.
Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkannya. karena nikah merupakan “Gharizah Insaniyah” (naluri kemanusiaan).
Allah Ta’ala berfirman :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kapada Agama (Allah). (tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Ruum : 30)

• Islam Menganjurkan Menikah
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan sangat besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan yang kuat. Allah Ta’ala Berfirman :

” ….. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (QS. An-Nisa : 21)

Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :
“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh agamanya. dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dengan memelihara yang separuhnya lagi”. (HR. At-Thabrani di kitab Mu’Jamul Ausath)

• Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras orang yang tidak mau menikah.

Anas bin Malik berkata Rahimahullah, berkata : “Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda : “Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. karena aku akan berbangga dengan banyaknya ummatku di hadapan ummat-ummat lain”. (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Pernah suatu ketika. tiga orang sahabat datang dan bertanya kepada isteri-isteri Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang peribadatan yang beliau lakukan. kemudian setelah diterangkan, maka masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. salah seorang diantara mereka berkata : “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”, sahabat yang lainnya berkata : “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya” … dan ketika hal tersebut didengar oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau pun bersabda :

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu … Sungguh demi Allah. Sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian. akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. maka barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi)

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menikah. dan seandainya mereka fakir niscaya Allah Ta’ala akan membantudengan memberikan rizqi kepada mereka. dan Allah menjanjikan pertolongan kepada orang-orang yang menikah.
Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan Nikahkan lah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (Menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan yang wanita. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah maha luas (Pemberiannya) lagi maha mengetahui”. (QS. An-Nuur : 32)

Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam, bersabda :

“Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapatkan pertolongan Allah. yaitu Mujahid Fi Sabilillah, Budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Al-Hakim

Ghibah - Menggunjing Sesama

Ghibah - Menggunjing Sesama
Ghibah adalah Perbuatan yang tercela dan memiliki dampak negatif cukup besar bagi umat Islam. Sebab dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia.

Seseorang yang berbuat Ghibah berarti dia telah menebarkan kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat. Walaupun telah jelas besarnya bahaya Ghibah, namun masih banyak orang yang melakukannya dan menganggap remeh bahaya menggunjing.

Diceritakan dalam rangkaian Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW melewati suatu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka sendiri dengan kukunya. Nabi bertanya kepada malaikat Jibril yang mendampinginya waktu itu, "Apa itu Jibril?". Malaikat penyampai wahyu Allah itu menjawab, "Itulah gambaran orang yang suka menggunjing sesamanya (Ghibah)".

Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau aib orang lain atau menyebut masalah orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi.

Dalam Alquran, Allah SWT mengibaratkan Ghibah dengan "memakan daging mayat saudara sendiri". Seperti disebutkan dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Meskipun kejelekan atau kekurangan orang lain itu faktual, benar-benar terjadi alias sesuai dengan kenyataan, tetap saja itu Ghibah.

Dalam hadis Rasulullah SAW berikut menyebutkan: "Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci." Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya?" Rasulullah menjawab, "Kalau memang benar ada padanya, itu Ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada)." (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Sementara ada Ghibah yang diperbolehkan seperti disampaikan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin, bahwa Ghibah hanya diperbolehkan untuk tujuan syara' yaitu yang disebabkan enam kriteria yaitu:
  1. Orang yang mazhlum (teraniaya), 
  2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar, 
  3. Istifta' (meminta fatwa) akan sesuatu hal, 
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan, 
  5. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bidah, dan 
  6. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Bukan untuk tujuan menghina. 
(Oleh: Mimin Sutisna, S.Ag. Kepala Seksi Penerangan Agama Islam pada Masyarakat pada Kantor Kementerian Agama Kota Bandung).

Sumber: klik-galamedia.com

NUZULUL QURAN

NASKAH KHUTBAH JUM'AT
NUZULUL QURAN

Khutbah Pertama
ALHAMDULILLÂHIL QOOIL: SYAHRU ROMADHOONAL LADZII UNZILA FIIHIL QURAAN, HUDAL LIN NAASI WA BAYYINAATIM MINAL HUDAA WAL FURQOON. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOOH AL-MALIKUR ROHMAAN, WA ASYHADU ANNA SAYYIDANAA MUHAMMADAN ABDUHU WA ROSUULUHU SAYYIDUL INSI WAL JAAN. ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM 'ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALIHI WA SHOHBIHI AJMA'IIN. AMMA BA'DU
FAYAA AYYUHAH HAADLIRUUN, UUSIIKUM WA IYYAAYA BI TAQWALLOOH. FAINNAL JANNATA U'IDDAT LIL MUTTAQIIN.
QOOLALLOOHU TA'AALA FIL QURAANIL KARIIM, A'UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIRROJIIM, BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Sadaya puji kagungan Allah, Shalawat kalih salam salamina didugikeun ka jungjunan urang Nabi Muhammad Saw. Ka kulawargina, sahabatna, katut ka sadaya umatna dugi ka yaumil kiamat.
Khotib umajak ka sadaya hadirin sidang Jumat, hayu urang sasarengan ningkatkeun ajen kataqwaan urang ka Allah Swt. Margi mung ukur taqwa bekel pangsaena kanggo urang jaga di akherat. Fatazawwadû fainna khoiroj jâdit taqwâ.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Di antawis kaagungan sasih Ramadhan teh, aya peristiwa anu agung nyaeta peristiwa Nuzulul Quran, nyaeta peristiwa dilungsurkeuna al-Quran ku Allah Swt. melalui malak Jibril AS.
Dupi waktos peristiwa Nuzulul Quran, para ulama benten pendapat.
Kahiji, dumasar kana pendapat Ibnu Umar, nyebatkeun Nuzulul Quran teh terjadi kaping 8 atanapi 18 Rabiul Awwal.
Pendapat kadua, dumasar kana riwayat Abu Hurairah, nyebatkeun yen Nuzulul Quran terjadi kaping 17 atanapi 27 Rajab.
Pendapat katilu, dumasar kana pendapat Ibnu Ishaq riwayatna ti Al-Barra bin 'Aziz, nyebatkeun Nuzulul Quran terjadi kaping 17 Ramadhan.
Pendapat kaopat, dumasar kana pendapat Syekh Shafiyur Rahman Mubarak Fury, nyebatkeun Nuzulul Quran terjadi kaping 21 Ramadhan.
Pendapat terakhir, berdasarkeun pendapat Ibnu Hajar Al-Haitamiy, riwayat Aisyah, Jabir, sareng Watsilah bin Asqo, nyebatkeun Nuzulul Quran terjadi kaping 24 Ramadhan.
Janten, upami urang sadaya biasa mieling Nuzulul Quran kaping 17 Ramadhan, berarti ngiring kana pendapat Syaikh Barra bin 'Aziz. Anapon persolan benten pendapat, teu kedah janten perselisihan, margi perbedaan pendapat, pada hakikatna, janten rahmat kanggo urang sadaya. Dawuhan Kangjeng Rasul Saw.: "Al-ikhtilâfu fî ummatî rohmatun; perbedaan anu aya di kalangan umat kami, saur Rosul, eta jadi mangrupakeun rahmat".

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Dalil anu ngunggelkeun wireh Nuzulul Quran terjadi di sasih Ramadhan, nyaeta dawuhan Allah Swt. Q.S. Al-Baqarah ayat 185:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

Anu maksadna:
"Bulan Ramadhan teh, bulan dilungsurkeunana Al-Quran, anu janten pituduh keur sakumna manusa, anu bisa misahkeun mana anu haq jeung mana anu bathil".
  
Dalil anu sanesna nyaeta Q.S. Al-Qadr ayat 1:
إنا أنزلناه في ليلة القدر(1) وما أدراك ما ليلة القدر(2) ليلة القدر خير من ألف شهر(3) تنزل الملائكة والروح فيها بإذن ربهم من كل أمر(4) سلام هي حتى مطلع الفجر(5)

Hartosna:
"Saestuna Kami nurunkeun Al-Quran dina maleman Lailatul Qadar"

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!    
Ayat kahiji surat al-Qadr ngajentrekeun yen Al-Quran lungsur dina wengian Lailatul Qadr. Hiji wengi anu mungguh Allah diberkahan ku Mantena. Dawuhan Allah Swt. Q.S. Ad-Dukhan ayat 3:

إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين

Hartosna:
"Saestuna Kami Nurunken (al-Quran) dina peutingan anu dibekahan, Saestuna kami nyata anu mere peringatan".

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Dina surat al-Qadr ayat kadua aya istifham wa mâ adrâka. Numutkeun sabagian ulama, kalimat istifham wa mâ adrâka, dina al-Quran, sadayana digunakeun kango nunjukkeun perkara atanapi kajadian anu LUAR BIASA, sareng manusa moal terang kana hakikat anu saleresna. Misalna, wa mâ adrâka mal Qâri'ah, wa mâ adrâka mâ hiyah, sareng anu sanesna.
Janten, Hadirin Sidang Jumat, kasimpulanana yen Lailatul Qodar, di mana al-Quran dilungsurkeun teh, hiji kajadian anu hakekatna mung Allah anu uninga. Kabagjaan anu kalintang ageungna pikeun jalmi anu kenging kamulyaan Lailatul Qadar.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Anu paling penting kanggo urang, peristiwa Nuzulul Quran ulah mung saukur peringatan anu sifatna ritual. Tapi, kumaha carana al-Quran janten pribadi urang sadaya.
Al-Quran mangrupikeun kitab suci anu salamina saluyu jeung zaman, maka urang sadaya kudu akur jeung zaman. Hartosna, kudu bisa ngigelan zaman. Sabab sifat dasar muslim anu Qurani, nyaeta shâlihun li kulli zamânin wa makânin.
Al-Quran ngajarkeun ka urang supaya urang mangfaat, sanes mung ukur pikeun papada jalma, tapi manfaat pikeun sakumna alam. Maka urang kedah janten jalmi anu rahmatan lil 'âlamîn, nyaah ka jalma, nyaah ka sakumna alam.
Al-Quran ngajarkeun supaya urang nyandarkeun sadaya aktivitas amliyah urang kana kaikhlasan, maka sadaya anu patali sareng amal urang kudu ikhlas. Ngator ikhlas, nyawah ikhlas, dagang ikhlas, ngebon ikhlas, mingpin umat ikhlas, sadayana kudu ikhlas. Syekh Yusuf Qardawi ngunggelkeun mâ kâna lillâhi dâma wat tashola, wa mâ kâna lighoirihi inqotho'a wan fashola.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Mudah-mudahan urang sadaya tiasa berakhlak luyu sarena al-Quran. Tiasa ngajantenkeun al-Quran sebagai minhâjul hayât, di mana wae sareng iraha wae urang aya. Amin yâ rabbal 'âlamîn.
BARAKALLOOHU LII WA LAKUM MINAL AAYAATI WA DZIKRIL HAKIIM. WA TAQOBBALA MINNII WA MINKUM TILAAWATAHU, INNAHU HUWAS SAMII'UL 'ALIIM.

Khutbah Kadua
Alhamdulillaahi wa kafaa wash sholaatu was salaamu'alaa rosuulil mushthofaa, wa 'alaa aalihi wa shohbihi ahlish shidqi wal wafaa. Alloohumma sholli 'alaa sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihi ajmaiin.
Fayaa ayyuhal ikhwan, ittaqulloha haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun.
Qoolalloohu ta'aala fil quraanil kariim: Innalloha wa malaaikatahuu yusholluuna 'alan Nabiyy, yaa ayyuhal ladziina aamanuu sholluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa.
Allohummagfir lil muslimiina wal muslimaat, wal mu'miniina wal mu'minaat al-ahyaa'I minhum wal amwaat.
Subhaana robbika robbil 'izzati 'ammaa yashifuun, wa salaamun 'alal mursaliin, wal hamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
IBAADALLOOH. INNALLOOHA YA'MURU BIL 'ADLI WAL IHSAAN, WA IITAA'IDIL QURBAA WA YANHAA 'ANIL FAKHSYAA'I WAL MUNKAR WAL BAGHYI. YA'IDZUKUM LA'ALLAKUM TADZAKKARUUN. WALADZIKRULLAHI AKBAR. ASTAGHFIRULLOOH LII WA LAKUM.

Teks Doa Peringatan Hari Jadi Kota Bandung

TEKS DOA

PADA PERINGATAN HARI JADI KOTA BANDUNG

TANGGAL 25 SEPTEMBER 2010

Yâ Allâh,

Hari ini kami berkumpul, bersimpuh dihadapan-Mu, dalam rangka PERINGATAN YANG KE-200 HARI JADI KOTA BANDUNG,

Kami memuji dan memanjatkan syukur pada-Mu, atas karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami,

Kami memohon ampun atas khilaf, alfa, salah, dan dosa yang telah kami perbuat, Ya Allah!


 

Yâ Allâh Yâ Qâdhiyal Hâjât!

Kabulkanlah kiranya segala kebutuhan kami, Agar Kami dapat mewujudkan KOTA BANDUNG yang BERMARTABAT, di hadapan-Mu, dan di adapan selaksa Makhluk-Mu!


 

Yâ Allâh Yâ Kâfiyal Muhimmât!

Wahai Allah yang mencukupkan segala kepentingan!

Cukupkanlah jiwa dan raga kami dengan kenikmatan mengabdi pada-Mu. Cukupkanlah ya Allah, kekuatan jiwa dan raga kami, untuk menjadi pribadi yang AGAMIS, bukan saja pada semboyan dan slogan, Ya Allah, tapi mengurat nadi, dan mendarah daging pada sikap, perbuatan, dan pribadi kami.


 

Yâ Allâh Yâ Râfi'ad Darajât!

Wahai Allah yang Maha Mengangkat Derajat!

Luhurkanlah derajat kami dengan prestasi yang tinggi, dan akhlak yang mulia! Jadikanlah KEMULIAAN dihadapan-Mu adalah cita-cita tertinggi Kami, Yâ Allâh!


 

Yâ Allâh Yâ Syâfiyal Amrâdh!

Duhai Allah yang menyembuhkan segala penyakit!

Hindarkan kami dari penyakit jiwa dan raga, dari penyakit individu dan sosial.


 

Yâ Allâh Yâ Arhamar Râhimîn!

Wahai Allah Yang Maha Pengasih!

Limpahkanah Kasih Sayang-Mu pada kami, para pemimpin kami, para pendiri Kota Kami, pada para pejuang Kemajuan dan kemuliaan Kota Kami.


 

Yâ Allâh Yâ Mujîbad Da'wât!

Ya Allah, perkenankanlah semua doa dan permohonan kami. Karena hanya Engkaulah tempat kami mengadu dan mohon pertolongan.

Âmîn, Âmîn, Âmîn, Yâ Mujîbas Sâilîn.

Perkawinan Dan Keluarga Dalam Hukum Positif

Perkawinan Dan Keluarga Dalam Hukum Positif
Oleh: Ahmad Nuryani, M.Ag.

Perkawinan (baca: pernikahan) menurut pengertiannya sangatlah sederhana. Yaitu aqdun yatadhammanu ibâhata wath'in bi lafdzi inkâhin aw tazwîjin aw tarjamatihi, yang diartikan sebagai akad yang mengandung kebolehan wathi (hubungan badan) dengan mengucapkan lapal inkâh, tajwîj, atau terjemahannya. Jadi, dengan hanya mengucapkan kata-kata yang bermakna menikahi atau mengawini, dan telah terpenuhinya syarat dan rukun yang ditentukan, pernikahan telah menjadi sah.
Namun, ternyata pernikahan yang sah menurut agama dan tidak tercatat secara legal menurut hukum positif, membuka kemungkinan munculnya masalah di kemudian hari. Untuk menghindari berbagai masalah yang muncul di kemudian hari, maka Pemerintah mengaturnya dalam berbagai aturan hokum positif. Di antaranya:
  1. UU Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
  2. PP Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
  3. KMA Nomor 11 Tahun 2007 Tentang Pencatatan Nikah dan Rujuk
  4. Peraturan Direktur Jenderal Bimas Islam Departemen Agama Nomor: DJ.II/491 Tahun 2009
Pada praktiknya, upaya menghindari munculnya berbagai problem yang dapat merusak harmoni hubungan keluarga, maka dilakukan penasihatan, pembinaan, dan pemeliharaan perkawinan melalui lembaga BP4. Pembinaan tersebut dilakukan oleh pengurus BP4 atau pihak yang ditunjuk oleh pemerintah.
Demikian, semoga bermanfaat.
Wallâhu a'lam bi al-Shawâb.

Taqwa Sebagai Bekal Terbaik

Taqwa Sebagai Bekal Terbaik


Ketika kita bepergian, kita biasa menyiapakan perbekalan untuk selama di perjalanan. Tujuannya, agar kita dapat memenuhi segala hingga sampai di tempat yang di tuju.
 
Pertanyaannya, apakah kita telah mempersiapkan bekal perjalanan menuju Allah Swt.? Perjalanan meniju Allah penuh dengan tantangan, hambatan, dan godaan. Jadi, sudah barang tentu kita harus mempersiapkan bekal yang banyak yang dapat mencukupi segala kebutuhan kita.
 
Namun, bekal menuju Allah bukanlah dalam bentuk materi. Bukan mobil, bukan, nasi, bukan pula uang dan lain sebagainya. Tetapi bekal perjalanan menjumpai Allah adalah ketaqwaan. Allah Swt berfirman: FATAJAWWADUU FA INNA KHAIROJ JAADIT TAQWA. Artinya, "Berbekallah kalian semua (untuk menghadap-KU), sesungguhnya bekal terbaik adalah Ketaqwaan."

Selain merupakan bekal terbaik kita dalam perjalanan menuju Allah Swt., Ketaqwaan memiliki banyak keuntungan. Di antara keuntungan yang didapatkan oleh orang yang bertaqwa, terdapat lima hal yang disebutkan dalam al-Quran Surat ath-Thalaq ayat 2 sampai 5:

Pertama, di ujung ayat kedua disebutkan WAMAY YATTAQILLAAHA YAJ'AL LAHUU MAKHROJA; barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari semua masalahnya.

Kedua, di awal ayat ketiga dikatakan, WA YARZUQHU MIN HAITSU LAA YAHTASIB; Allah akan menganugerahkan Rizqi yang melimpah dari arah yang tidak pernah terkira. Dalam jumlah yang melimpah ruah.

Hal tersebut karena, kata LAA YAHTASIB, menurut para ahli Tafsir, maknanya dua, yaitu (1) Arah datangnya rizqi tidak pernah kita duga sebelumnya. Sedangkan (2) maknanya adalah rizqi yang kita peroleh jumlahnya tidak terhitung banyaknya. WA IN TA'UDDUU NI'MATALLOHI LAA TUHSHUUHA.

Ketiga, di ujung ayat keempat diungkapkan WAMAY TTAQILLAAHA YAJ'AL LAHUU MIN AMRIHI YUSRA; barang siapa yang bertaqwa, maka Allah akan permudah segala urusannya.

Keempat, di tengah ayat ke lima disebutkan: WAMAY YATTAQILLAAHA YUKAFFIR ANHU SAYYIAATIHI; barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menghapus segala kesalahannya.

Terakhir yang kelima, di ujung ayat ke lima: WA YU'DHIM LAHUU AJRA; Allah akan melipatgandakan semua pahala yang diberikan kepada orang yang bertaqwa.

Dengan demikian, teranglah kepada kita. Bahwa ketaqwaan tidak hanya memiliki keuntungan yang berorientasi ukhrawi, tetapi pada saat yang sama orang yang bertaqwa akan mendapatkan keuntungan duniawi.
 
Semoga kita menjadi hamba Allah yang bertaqawa dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya.

CINTA / AL-MAHABBAH / AL-HUBB

CINTA/AL-MAHABBAH/AL-HUBB
Oleh: Ucup Pathudin Almaarif

Q.S. âli Imrân: 31;

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Q.S. Al-Tawbat: 24;

Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.


  1. Cinta sebagai sumber penciptaan makhluk;
    كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق ليعرفونى بى
     
  2. Cinta sumber kebersamaan, baik dalam bahagia atau nestapa; dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim tentang peristiwa yang terjadi pada Rasulullah Saw. ketika bersama Anas bin Malik yang didatangi seseorang, ia bertanya: "Kapankah kiamat datang, ya Rasulullah?", lalu Rasulullah Saw. balik bertanya: "Apa yang telah kamu siapkan untuk menghadapinya?". Ia menjawab: "Aku belum bersiap-siap dengan apapun, baik shalat, infaq, dan haji. Tetapi aku sangat mencintai Allah dan Rasulnya". Lalu Rasulullah Saw.bersabda:
    أنت مع من أحببت

    Dalam Shahih Bukhori:
    ألمرأ مع من أحب

  3. Cinta adalah cara merasakan manisnya iman;
    ثلاث من كا ن فيه وجد حلاوة الإيمان أن يكون الله و رسوله أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين
    وأن يحب المرأ لا يحبه الا لله
    وأن لا يحب المرأ لا يحبه الا لله
     
  4. Cinta menjadi salah satu golongan yang mendapat perlindungan; Dalam hadits riwayat Bukhori-Muslim:
    ورجلان يتحبا في الله إجتمع عليه وتفرقا عليه

    Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi, tentang lima wasiat Rasulullah Saw:

    وأحب للناس ما تحب لنفسك تكن مسلما

     
  5. Cara mencintai manusia lain;
    لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما تحب لنفسه
     
  1. Cara dicintai Allah; dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
    حقت محبتى للمتحبين في وحقت محبتى للمتواصلين في وحقت محبتى للمتزاورين في وحقت محبتى للمتباذلين في

     
  2. Cara dicintai Rasul Saw; dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawd dan Al-Nasai:
    يامعاذ والله لأحبك ثم أصيك
    يا معاذ لا تدعن في دبر كل صلاة تقول اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك


    Setelah Khutbah kedua sebagai closing:



    من أحب شيأ كثر ذكره
    علامة حب الله حب ذكرالله وعلامة بغض الله بغض ذكرالله

Istiqamah Menjalankan Ibadah

Kualitas ibadah manusia dapat diukur dengan tingkat istiqamahnya. Semakin istiqamah, maka semakin baik kualitas ibadahnya. Jadi bukan diukur dari banyak atau sedikitnya, tetapi diukur dari istiqamahnya.
Dengan demikin, ibadah yang sedikit jika dilaksanakan secara istiqamah, jauh lebih baik dibandingkan ibadah yang banyak tapi hanya dilakukan sekali saja.
Peribahasa mengatakan: “KHOIRUL UMUUR ADWAAMUHA WA IN QALLA”, artinya: “Sebaik-baiknya urusan adalah yang paling dawam atau paling langgeng dilaksanakannya, walaupun sedikit”.
Orang yang istiqamah melaksanakan ibadah akan mendapatkan limpahan rizqi yang banyak dari Allah Swt. Firman Allah dalam Quran Surat Jin ayat 16 yang artinya

Kepompong Ramadhan

KEPOMPONG RAMADHAN
Shaum ternyata tidak hanya dilakukan oleh manusia saja. Shaum dilakukan oleh binatang juga. Bedanya, barangkali, manusia melakukan shaum karena berpijak pada kewajiban yang diembannya, sedangkan binatang melakukan shaum karena kebutuhannya.
Hewan yang melakukan ‘shaum’ di antaranya adalah ulat dan ular. Ulat berpuasa selama melakukan metamorfosis. Semula ulat adalah makhluk yang menjijikan, atau bahkan bagi sebagian orang termasuk makhluk menakutkan. Tapi, setelah sang ulat ‘shaum’, jadilah ia seekor kupu-kupu. Makhluk yang indah penebar manfaat, bahkan selalu membawa selaksa rahasia.

Komodifikasi Dan Konsumerisme Ramadhan

Ramadhan telah tiba, panggung pertunjukan konsumerisme dan komodifikasi pun dimulai. Konsumerisme dan komodifikasi adalah dua “penyakit” yang selalu mendapatkan moment akutnya pada bulan Ramadhan.
Pertama konsumerisme. Penyakit ini adalah gejala “penyakit jiwa” yang tercermin dalam pribadi yang jajan minded, belanja minded, mall minded, pasar minded, kendati pun kemampuan secara ekonomi sangat “pas-pasan”.
Gejala penyakit ini, menjalar dalam pribadi yang mudah terinfeksi oleh virus hang out dengan sejumput aktivitas belanja. Aktivitas tersebut sesungghnya bukan karena desakan kebutuhan yang mendasar. Namun, didorong oleh variable gengsi yang melekat pada diri pribadi. Akhirnya, berbagai cara dilakukan untuk memenuhi nafsu yang bernama gengsi itu. Dengan “nganjuk-ngutang” sekali pun.
Perilaku ngagugu hawa nafsu diingatkan Allah dalam Q.S.al-Jatsiyah: 23: yang Artinya:

Ramadhan Dalam Dimensi Sufi

RAMADHÂN DALAM DIMENSI SUFI

Ramadhân terdiri dari lima huruf, Ra’, Mîm, Dhâd, Alîf, dan Nûn.
Hurup ra bermakna Rahmat, rahmat adalah irâdatu îshâalil khayr (Kehendak untuk menyambungkan kebaikan). Makna lain dari rahmat adalah riqqatun fil qalbi taqtadhî at-tafadhdhula wal-ihsâna (perasaan jiwa yang lembut yang melahirkan perbuatan yang baik dan luhur). Dalil yang menunjukkan rahmat dalam al-Quran: Q.S. Al-A’râf: 56, Q.S. Al-Anbiyâ: 107, Q.S. Fâthir: 2, Q.S. Az-Zukhrûf: 32, Q.S. Al-Hadîd: 27, Q.S. Az-Zumâr: 52, Q.S. Al-Isrâ: 82, Q.S. Âli Imrân: 158, dan Q.S. Yûnus: 58. Dalam ayat yang disebut terakhir (Yûnus: 58), Allah menyebutkan, bahwa disebabkan rahmat dan karunia Allah-lah kita mengalami segala hal, termasuk amal baik yang kita lakukan. Oleh karena itu,

Meneguk Kesegaran Hikmah Dari Telaga Hijrah

Meneguk Kesegaran Hikmah Dari Telaga Hijrah- Secara fisik Hijrah Rasulullah terjadi pada tahun ke 13 kenabian, bertepatan dengan tahun 622M. peristiwa inilah yang kemudian dijadikan awal perhitungan untuk menentukan tahun Islam, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, yang kita kenal selama ini adalah tahun Hijriyah.
Kata hijrah dalam Lisanul ‘Arab ini mengartikan ini sebagai keluar meninggalkan satu tempat ke tempat yang lain (). Makna ini sesuai dengan hadits nabi bahwa : orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah Swt.”
Shalih ibn Fauzan bin abdilah al-Fauzan membagi hijrah menjadi dua, apa saja?... yaitu yang pertama hijrah kepada Allah dan yang kedua hijrah kepada Rasulullah.