بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Anjuran Menikah

Anjuran Untuk Menikah

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan, mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (meminang), cara mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberi nafqah), dan pembagian harta waris, semuanya telah diatur dalam Islam secara terperinci, dan detail. selanjutnya untuk memahami konsep pernikahan dalam islam, maka rujukan yang paling benar dan sah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. maka berdasarkan rujukan ini kita akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di dalam masyarakat kita.
Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkannya. karena nikah merupakan “Gharizah Insaniyah” (naluri kemanusiaan).
Allah Ta’ala berfirman :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kapada Agama (Allah). (tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Ruum : 30)

• Islam Menganjurkan Menikah
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan sangat besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan yang kuat. Allah Ta’ala Berfirman :

….. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (QS. An-Nisa : 21)

Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :
“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh agamanya. dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dengan memelihara yang separuhnya lagi”. (HR. At-Thabrani di kitab Mu’Jamul Ausath)

• Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras orang yang tidak mau menikah.

Anas bin Malik berkata Rahimahullah, berkata : “Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda : “Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. karena aku akan berbangga dengan banyaknya ummatku di hadapan ummat-ummat lain”. (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Pernah suatu ketika. tiga orang sahabat datang dan bertanya kepada isteri-isteri Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang peribadatan yang beliau lakukan. kemudian setelah diterangkan, maka masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. salah seorang diantara mereka berkata : “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”, sahabat yang lainnya berkata : “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya” … dan ketika hal tersebut didengar oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau pun bersabda :

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu … Sungguh demi Allah. Sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian. akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. maka barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi)

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menikah. dan seandainya mereka fakir niscaya Allah Ta’ala akan membantudengan memberikan rizqi kepada mereka. dan Allah menjanjikan pertolongan kepada orang-orang yang menikah.
Allah Ta’ala Berfirman :

Dan Nikahkan lah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (Menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan yang wanita. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah maha luas (Pemberiannya) lagi maha mengetahui”. (QS. An-Nuur : 32)

Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam, bersabda :

Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapatkan pertolongan Allah. yaitu Mujahid Fi Sabilillah, Budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Al-Hakim

Ghibah - Menggunjing Sesama

Ghibah - Menggunjing Sesama
Ghibah adalah Perbuatan yang tercela dan memiliki dampak negatif cukup besar bagi umat Islam. Sebab dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia.

Seseorang yang berbuat Ghibah berarti dia telah menebarkan kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat. Walaupun telah jelas besarnya bahaya Ghibah, namun masih banyak orang yang melakukannya dan menganggap remeh bahaya menggunjing.

Diceritakan dalam rangkaian Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW melewati suatu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka sendiri dengan kukunya. Nabi bertanya kepada malaikat Jibril yang mendampinginya waktu itu, "Apa itu Jibril?". Malaikat penyampai wahyu Allah itu menjawab, "Itulah gambaran orang yang suka menggunjing sesamanya (Ghibah)".

Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau aib orang lain atau menyebut masalah orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi.

Dalam Alquran, Allah SWT mengibaratkan Ghibah dengan "memakan daging mayat saudara sendiri". Seperti disebutkan dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Meskipun kejelekan atau kekurangan orang lain itu faktual, benar-benar terjadi alias sesuai dengan kenyataan, tetap saja itu Ghibah.

Dalam hadis Rasulullah SAW berikut menyebutkan: "Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci." Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya?" Rasulullah menjawab, "Kalau memang benar ada padanya, itu Ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada)." (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Sementara ada Ghibah yang diperbolehkan seperti disampaikan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin, bahwa Ghibah hanya diperbolehkan untuk tujuan syara' yaitu yang disebabkan enam kriteria yaitu:
  1. Orang yang mazhlum (teraniaya), 
  2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar, 
  3. Istifta' (meminta fatwa) akan sesuatu hal, 
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan, 
  5. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bidah, dan 
  6. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Bukan untuk tujuan menghina. 
(Oleh: Mimin Sutisna, S.Ag. Kepala Seksi Penerangan Agama Islam pada Masyarakat pada Kantor Kementerian Agama Kota Bandung).

Sumber: klik-galamedia.com

SIMKAH Solusi "Pemodernan Pencatatan Nikah"

SIMKAH (Sistem Informasi
Manajemen Pernikahan)
Pengelolaan administrasi perkantoran yang bersifat konvensional dituntut sesegera mungkin beralih ke era digital. Hal ini seiring dengan semakin berkembangnya teknologi yang disertai dengan tuntutan pelayanan yang efektif dan efisien.

Intansi pemerintah, termasuk Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, mencoba mewujudkan tuntutan jaman ini dengan melahirkan aplikasi pengelolaan nikah pada KUA yang disebut SIMKAH. Pengelolaan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pernikahan yang sudah diterapkan oleh Ditjen Bimas Islam semakin banyak berperan dalam mewujudkan sistem perkantoran modern pada Kantor Urusan Agama.

Dalam perkembangannya aplikasi SIMKAH banyak mendapatkan respon dari berbagai pihak. Beberapa di antaranya tanggapan positif baik dari operator SIMKAH pada KUA (internal) maupun masyarakat umum (External). Respon yang membangun ini sangat dibutuhkan oleh pengelola SIMKAH karena pada akhirnya menjadi bahan evaluasi kebijakan pengembangan sistem informasi nikah.

Lalu, apa seh fungsi SIMKAH? Fungsi dan manfaat dari Simkah di antaranya:
  1. Membangun Sistem Informasi Manajemen Penikahan dicatat di KUA-KUA; 
  2. Membangun infrastruktur database dengan memanfaatkan teknologi yang dapat mengakomodasi kebutuhan manajemen dan eksekutif; 
  3. Membangun infrastruktur jaringan yang terintegrasi antara KUA ditingkat daerah sampai Kantor Pusat; 
  4. Penyajian data yang cepat dan akurat serta mempermudah pelayanan, pengendalian dan pengawasan; 
  5. Pelayanan bagi publik untuk mendapatkan informasi yang lengkap, cepat dan akurat.
Untuk melengkapi fungsinya, SIMKAH disertai dengan fitur aplikasi, yaitu:
  1. Data Master (Meliputi tempat KUA, Petugas (Penghulu dan P3N) juga ID dan Password)
  2. Rekap (Meliputi data berupa jumlah bilangan peristiwa pernikahan pertahun. disini juga bisa melihat rekap peristiwa pernikahan KUA-KUA seluruh Indonesia)
  3. Grafik (Meliputi Gambaran Grafik pertahun peristiwa pernikahan)
  4. Detail (Meliputi daptar penikahan mulai dari No. register, nama catin laki-laki, catin perempuan, tanggal pernikahan dan tempat pelaksanaan)
  5. Entry Data (Meliputi pengisian berkas-berkas peristiwa pernikahan baik dari Model N1 s.d N7, model NB atau Akta Cerai)
Dengan adanya SIMKAH ini diharapkan akan mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan pernikahan dan mempermudah pemerintah memantau peristiwa pernikahan. Diharapkan tidak ada lagi manipulasi data diri yang biasa dilakukan untuk melangsungkan pernikahan kedua dan seterusnya, sehingga lembaga perkawinan sebagai gerbang awal pembangunan bangsa bisa tejaga dengan baik.

Sumber: bimasislam.kemenag.go.id

Dinamika Sidik Jari

FIESTA DI PAGI BUTA
(Catatan buat Finger Print yang Nyentrik)


Absensi Sidik Jari KUA Gedebage
“Rempeg alias kompak”. Barangkali kata itulah yang dapat mewakili suasana kehadiran personil KUA Gedebage, ketika absensi dengan finger print diberlakukan sejak awal Juni ini.
Ada suasana lucu yang muncul secara “ujug-ujug”. Ada yang gurung gusuh tuturubun turun dari motor, tanpa menghiraukan tradisi “salaman” dengan kawan-kawan yang lain, langsung menuju Si Nyentrik, finger print.
Tegang, gemetaran, deg-degan. Ya, itulah yang dirasa ketika Si Finger Print “berteriak”: “Silakan coba lagi!”. “Wah, jangan-jangan aku ga kedetect nich?”. “Aduh aku duluan ya, sidik jarinya. Takut kesiangan!”. Hayo, siah! ‘Ga dianggap karyawan tah!”.
Itulah komentar-komentar yang diselingi dengan gelak tawa satu sama lain. Ahhh...pokoknya mirip dengan suasana fiesta (baca: pesta) yang gegap gempita.
Tapi ada juga “celetukan” yang agak nakal. “Sigahna, urang teh balik ka jaman pra sejarah, teu bisa nulis tanda tangan, anu balukarna, ngabsen ge make sidik jari”. Begitu ujarnya sambil ketawa terkekeh-kekeh. “Ehh...Ini teh bukti kalau pemerintah komitmen, bahwa fasilitas yang diberikan negara, saperti gaji jste, berbasis kinerja, tau!”. Begitu sahut yang lain.
Luar biasa. Finger print ini, sadar atau tidak, memiliki daya kejut yang luar biasa. Kenapa? Paling tidak, menurut saya, ada tiga alasan. Pertama, terkejut karena masih dalam syndrom kebiasaan jam karet, datang ke kantor terlambat dan terkesan “sakahoyong”.
Kedua, karena aga “gaptek”. Yang ini terkejut karena sesungguhnya masih belum bersahabat dengan IT. Dan terakhir, karena alasan lain di luar dua alasan ini. Hee... boleh begitu kan? Dan yang dua di tulisan ini juga, sangat mungkin kurang tepat.
Yang penting, mari tingkatkan disiplin dan kinerja. Kalau datang dan pulang tepat waktu, tapi tidak produktif, rasa-rasanya belum oke juga tuh. Dan harus dicatat, bahwa datang dan pulang tepat waktu sesungguhnya bentuk ibadah dan tanggung jawab yang luar biasa. Apalagi jika produktivitas kerjanya jempolan, lebih mantabz lagi tuch.
Selamat. Jayalah KEMENTERIAN AGAMA..!!

NUZULUL QURAN

NASKAH KHUTBAH JUM'AT
NUZULUL QURAN

Khutbah Pertama
ALHAMDULILLÂHIL QOOIL: SYAHRU ROMADHOONAL LADZII UNZILA FIIHIL QURAAN, HUDAL LIN NAASI WA BAYYINAATIM MINAL HUDAA WAL FURQOON. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOOH AL-MALIKUR ROHMAAN, WA ASYHADU ANNA SAYYIDANAA MUHAMMADAN ABDUHU WA ROSUULUHU SAYYIDUL INSI WAL JAAN. ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM 'ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALIHI WA SHOHBIHI AJMA'IIN. AMMA BA'DU
FAYAA AYYUHAH HAADLIRUUN, UUSIIKUM WA IYYAAYA BI TAQWALLOOH. FAINNAL JANNATA U'IDDAT LIL MUTTAQIIN.
QOOLALLOOHU TA'AALA FIL QURAANIL KARIIM, A'UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIRROJIIM, BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Sadaya puji kagungan Allah, Shalawat kalih salam salamina didugikeun ka jungjunan urang Nabi Muhammad Saw. Ka kulawargina, sahabatna, katut ka sadaya umatna dugi ka yaumil kiamat.
Khotib umajak ka sadaya hadirin sidang Jumat, hayu urang sasarengan ningkatkeun ajen kataqwaan urang ka Allah Swt. Margi mung ukur taqwa bekel pangsaena kanggo urang jaga di akherat. Fatazawwadû fainna khoiroj jâdit taqwâ.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Di antawis kaagungan sasih Ramadhan teh, aya peristiwa anu agung nyaeta peristiwa Nuzulul Quran, nyaeta peristiwa dilungsurkeuna al-Quran ku Allah Swt. melalui malak Jibril AS.
Dupi waktos peristiwa Nuzulul Quran, para ulama benten pendapat.
Kahiji, dumasar kana pendapat Ibnu Umar, nyebatkeun Nuzulul Quran teh terjadi kaping 8 atanapi 18 Rabiul Awwal.
Pendapat kadua, dumasar kana riwayat Abu Hurairah, nyebatkeun yen Nuzulul Quran terjadi kaping 17 atanapi 27 Rajab.
Pendapat katilu, dumasar kana pendapat Ibnu Ishaq riwayatna ti Al-Barra bin 'Aziz, nyebatkeun Nuzulul Quran terjadi kaping 17 Ramadhan.
Pendapat kaopat, dumasar kana pendapat Syekh Shafiyur Rahman Mubarak Fury, nyebatkeun Nuzulul Quran terjadi kaping 21 Ramadhan.
Pendapat terakhir, berdasarkeun pendapat Ibnu Hajar Al-Haitamiy, riwayat Aisyah, Jabir, sareng Watsilah bin Asqo, nyebatkeun Nuzulul Quran terjadi kaping 24 Ramadhan.
Janten, upami urang sadaya biasa mieling Nuzulul Quran kaping 17 Ramadhan, berarti ngiring kana pendapat Syaikh Barra bin 'Aziz. Anapon persolan benten pendapat, teu kedah janten perselisihan, margi perbedaan pendapat, pada hakikatna, janten rahmat kanggo urang sadaya. Dawuhan Kangjeng Rasul Saw.: "Al-ikhtilâfu fî ummatî rohmatun; perbedaan anu aya di kalangan umat kami, saur Rosul, eta jadi mangrupakeun rahmat".

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Dalil anu ngunggelkeun wireh Nuzulul Quran terjadi di sasih Ramadhan, nyaeta dawuhan Allah Swt. Q.S. Al-Baqarah ayat 185:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

Anu maksadna:
"Bulan Ramadhan teh, bulan dilungsurkeunana Al-Quran, anu janten pituduh keur sakumna manusa, anu bisa misahkeun mana anu haq jeung mana anu bathil".
  
Dalil anu sanesna nyaeta Q.S. Al-Qadr ayat 1:
إنا أنزلناه في ليلة القدر(1) وما أدراك ما ليلة القدر(2) ليلة القدر خير من ألف شهر(3) تنزل الملائكة والروح فيها بإذن ربهم من كل أمر(4) سلام هي حتى مطلع الفجر(5)

Hartosna:
"Saestuna Kami nurunkeun Al-Quran dina maleman Lailatul Qadar"

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!    
Ayat kahiji surat al-Qadr ngajentrekeun yen Al-Quran lungsur dina wengian Lailatul Qadr. Hiji wengi anu mungguh Allah diberkahan ku Mantena. Dawuhan Allah Swt. Q.S. Ad-Dukhan ayat 3:

إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين

Hartosna:
"Saestuna Kami Nurunken (al-Quran) dina peutingan anu dibekahan, Saestuna kami nyata anu mere peringatan".

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Dina surat al-Qadr ayat kadua aya istifham wa mâ adrâka. Numutkeun sabagian ulama, kalimat istifham wa mâ adrâka, dina al-Quran, sadayana digunakeun kango nunjukkeun perkara atanapi kajadian anu LUAR BIASA, sareng manusa moal terang kana hakikat anu saleresna. Misalna, wa mâ adrâka mal Qâri'ah, wa mâ adrâka mâ hiyah, sareng anu sanesna.
Janten, Hadirin Sidang Jumat, kasimpulanana yen Lailatul Qodar, di mana al-Quran dilungsurkeun teh, hiji kajadian anu hakekatna mung Allah anu uninga. Kabagjaan anu kalintang ageungna pikeun jalmi anu kenging kamulyaan Lailatul Qadar.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Anu paling penting kanggo urang, peristiwa Nuzulul Quran ulah mung saukur peringatan anu sifatna ritual. Tapi, kumaha carana al-Quran janten pribadi urang sadaya.
Al-Quran mangrupikeun kitab suci anu salamina saluyu jeung zaman, maka urang sadaya kudu akur jeung zaman. Hartosna, kudu bisa ngigelan zaman. Sabab sifat dasar muslim anu Qurani, nyaeta shâlihun li kulli zamânin wa makânin.
Al-Quran ngajarkeun ka urang supaya urang mangfaat, sanes mung ukur pikeun papada jalma, tapi manfaat pikeun sakumna alam. Maka urang kedah janten jalmi anu rahmatan lil 'âlamîn, nyaah ka jalma, nyaah ka sakumna alam.
Al-Quran ngajarkeun supaya urang nyandarkeun sadaya aktivitas amliyah urang kana kaikhlasan, maka sadaya anu patali sareng amal urang kudu ikhlas. Ngator ikhlas, nyawah ikhlas, dagang ikhlas, ngebon ikhlas, mingpin umat ikhlas, sadayana kudu ikhlas. Syekh Yusuf Qardawi ngunggelkeun mâ kâna lillâhi dâma wat tashola, wa mâ kâna lighoirihi inqotho'a wan fashola.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah!
Mudah-mudahan urang sadaya tiasa berakhlak luyu sarena al-Quran. Tiasa ngajantenkeun al-Quran sebagai minhâjul hayât, di mana wae sareng iraha wae urang aya. Amin yâ rabbal 'âlamîn.
BARAKALLOOHU LII WA LAKUM MINAL AAYAATI WA DZIKRIL HAKIIM. WA TAQOBBALA MINNII WA MINKUM TILAAWATAHU, INNAHU HUWAS SAMII'UL 'ALIIM.

Khutbah Kadua
Alhamdulillaahi wa kafaa wash sholaatu was salaamu'alaa rosuulil mushthofaa, wa 'alaa aalihi wa shohbihi ahlish shidqi wal wafaa. Alloohumma sholli 'alaa sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihi ajmaiin.
Fayaa ayyuhal ikhwan, ittaqulloha haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun.
Qoolalloohu ta'aala fil quraanil kariim: Innalloha wa malaaikatahuu yusholluuna 'alan Nabiyy, yaa ayyuhal ladziina aamanuu sholluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa.
Allohummagfir lil muslimiina wal muslimaat, wal mu'miniina wal mu'minaat al-ahyaa'I minhum wal amwaat.
Subhaana robbika robbil 'izzati 'ammaa yashifuun, wa salaamun 'alal mursaliin, wal hamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
IBAADALLOOH. INNALLOOHA YA'MURU BIL 'ADLI WAL IHSAAN, WA IITAA'IDIL QURBAA WA YANHAA 'ANIL FAKHSYAA'I WAL MUNKAR WAL BAGHYI. YA'IDZUKUM LA'ALLAKUM TADZAKKARUUN. WALADZIKRULLAHI AKBAR. ASTAGHFIRULLOOH LII WA LAKUM.

Teks Doa Peringatan Hari Jadi Kota Bandung

TEKS DOA

PADA PERINGATAN HARI JADI KOTA BANDUNG

TANGGAL 25 SEPTEMBER 2010

Yâ Allâh,

Hari ini kami berkumpul, bersimpuh dihadapan-Mu, dalam rangka PERINGATAN YANG KE-200 HARI JADI KOTA BANDUNG,

Kami memuji dan memanjatkan syukur pada-Mu, atas karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami,

Kami memohon ampun atas khilaf, alfa, salah, dan dosa yang telah kami perbuat, Ya Allah!


 

Yâ Allâh Yâ Qâdhiyal Hâjât!

Kabulkanlah kiranya segala kebutuhan kami, Agar Kami dapat mewujudkan KOTA BANDUNG yang BERMARTABAT, di hadapan-Mu, dan di adapan selaksa Makhluk-Mu!


 

Yâ Allâh Yâ Kâfiyal Muhimmât!

Wahai Allah yang mencukupkan segala kepentingan!

Cukupkanlah jiwa dan raga kami dengan kenikmatan mengabdi pada-Mu. Cukupkanlah ya Allah, kekuatan jiwa dan raga kami, untuk menjadi pribadi yang AGAMIS, bukan saja pada semboyan dan slogan, Ya Allah, tapi mengurat nadi, dan mendarah daging pada sikap, perbuatan, dan pribadi kami.


 

Yâ Allâh Yâ Râfi'ad Darajât!

Wahai Allah yang Maha Mengangkat Derajat!

Luhurkanlah derajat kami dengan prestasi yang tinggi, dan akhlak yang mulia! Jadikanlah KEMULIAAN dihadapan-Mu adalah cita-cita tertinggi Kami, Yâ Allâh!


 

Yâ Allâh Yâ Syâfiyal Amrâdh!

Duhai Allah yang menyembuhkan segala penyakit!

Hindarkan kami dari penyakit jiwa dan raga, dari penyakit individu dan sosial.


 

Yâ Allâh Yâ Arhamar Râhimîn!

Wahai Allah Yang Maha Pengasih!

Limpahkanah Kasih Sayang-Mu pada kami, para pemimpin kami, para pendiri Kota Kami, pada para pejuang Kemajuan dan kemuliaan Kota Kami.


 

Yâ Allâh Yâ Mujîbad Da'wât!

Ya Allah, perkenankanlah semua doa dan permohonan kami. Karena hanya Engkaulah tempat kami mengadu dan mohon pertolongan.

Âmîn, Âmîn, Âmîn, Yâ Mujîbas Sâilîn.

Pengajian Rutin Kecamatan Gedebage

Pengajian Rutin Kecamatan Gedebage
Pengajian Rutin Kecamatan Gedebage
Ini kabar lain yang tidak kalah menggembirakan. Kantor Urusan Agama Kecamatan Gedebage bekerjasama dengan Pemerintahan Kecamatan Gedebage memiliki agenda pengajian rutin. Dengan dikomandoi oleh Ketua Tim Penggerak Kecamatan Gedebage Ibu Herlina Zamzam Nurzaman, bekerjasama dengan KKMT, BKMM, dan Penyuluh Fungsional KUA Kecamaan Gedebage, telah melaksanakan pengajian rutin sebanyak 2 (dua) kali.

Pengajian tersebut diagendakan pelaksanaannya tiap hari Jumat. Pengajian tersebut terbuka untuk semua kalangan.

Pada tanggal 18 Februari 2011, Kepala KUA Kecamatan Gedebage bertindak langsung sebagai pembicara pada pengajian tersebut. (MGA/Gdbg).