بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Manasik Haji

Bimbingan Manasik Calon Haji
 Oleh : Pengadministrasi Ibsos KUA Kecamatan Gedebage 

Satu diantara sekian kegiatan yang tak pernah absen dari aktivitas Kantor Urusan Agama dimanapun, tak terkecuali KUA Kecamatan Gedebage adalah Bimbingan Manasik. Menjadi bagian integral dalam program layanan, kegiatan Bimbingan Manasik Calon Jamaah Haji pada KUA Kecamatan Gedebage bertargetkan memeberi pembekalan ilmu dan pengetahuan serta keterampilan kepada para calon jamaah tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan Ibadah Haji. Ujungnya dengan pemilikan ilmu dan pengetahuan serta keterampilan yang memadai, para calon haji Kecamatan Gedebage diharapkan akan menjadi Haji Mabrur. Tahun 1435 H/2014 M ini, kegiatan Bimbingan Manasik Calon Haji Kecamatan Gedebage diikuti 45 orang, bertambah 9 orang stelah sebelumnya pada tahun 2013 berjumlah 36 orang. Materi bimbingan yang terpaket dalam 7 pertemuan, disajikan dengan metode ceramah, diskusi/tanya jawab, dan simulasi serta praktik. Semoga segala rencana yang disusun bisa mengantarkan pada pencapaian target dan tujuan kegiatan secara maksimal .........

JADWAL BIMBINGAN MANASIK CALON JAMA’AH HAJI KECAMATAN GEDEBAGE 
KOTA BANDUNG TAHUN 1435 H/2014 M 



PERTE MUAN
HARI/
TANGGAL
WAKTU
TEMPAT
MATERI
I
Selasa,
24 Juni 2014
08.00 – 12.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.    Bimbingan Perjalanan Ibadah Haji
2.    Bimbingan Kesehatan Haji  
II
Sabtu,
05 Juli 2014
13.00 – 17.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.   Etika dan Akhlakul Karimah
2.   Pengertian Haji, Ifrad, Tamattu, Qiron
3.   Macam-macam Dam
4.   Shalat Arba’in
III
Ahad,
06 Juli 2014
13.00 – 17.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.   Berpakaian dan shalat Sunat Ihram
2.   Niat dan Bacaan Talbiyah
3.   Thawaf
4.   Sa’i
5.   Tahalul
IV
Sabtu,
12 Juli 2014
13.00 – 17.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.   Praktik memakai pakaian ihrom
2.   Praktik Niat dan shalat sunat Ihram
3.   Praktik Thawaf, Sa’i dan Tahallul
V
Ahad,
13 Juli 2014
13.00 – 17.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.   Ihram/Miqot
2.   Wuquf di Arofah
3.   Mabid di muzdalifah dan Mina
4.   Thawaf Ifadhah
5.   Jumrah
VI
Sabtu,
23 Agustus 2014
13.00 – 17.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.    Ihram/Miqot
2.    Wuquf di Arofah
3.    Mabid di muzdalifah dan Mina
4.    Thawaf Ifadhah
5.    Jumrah
6.    Tahalul
VII
Ahad,
24 Agustus 2014
13.00 – 17.00
MASJID AL HIKMAH
Riung Bandung
1.    Ibadah dan kegiatan selama di pesawat
2.    Bimbingan kesehatan Haji
 

Tahun 2013, Pembimbing bersiap menyampaikan materi bimbingan

Menuju KUA Teladan 2014

PENILAIAN KUA TELADAN PROVINSI JAWA BARAT 2014

Tahap demi tahap dilalui,
Setelah dinyatakan sebagai KUA teladan tingjkat Kota Bandung, KUA Kecamatan Gedebage didaulat menjadi delegasi untuk mengikuti seleksi KUA Teladan 2014 di tingkat Provinsi Jawa Barat. Rangkaian ini diawali dari tahap penilaian Kepala KUA yang dilaksanakan pada tanggal 7 - 8  Mei 2014 di Hotel Karang Setra Bandung. Dari 26 peserta KUA yang mewakili Kota dan Kabupaten se Jawa Barat, diseleksi menjadi 6 besar.  Hasil seleksi 6 besar,  dalam rilis hasil penilaian kepala KUA,  KUA Kecamatan Gedebage Kota Bandung yang dikepalai Bapak Toto Supriyanto, M.Ag termasuk dalam jajaran 6 besar. Resmilah KUA Kecamatan Gedebage Kota Bandung bersama lima KUA lainnya menjadi KUA yang akan dikunjungi Tim Penilai dalam rangka penilaian menuju KUA Teladan tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2014.

Penilaian 
Tahapan berlanjut, KUA Kecamatan Gedebage bersiap menerima penilaian dari Tim Penilai KUA Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014. Waktu penilaian dilaksanakan pada tanggal 9 - 16 Juni 2014. KUA Gedebage  merupakan KUA terakhir yang mendapatkan kunjungan Tim Penilai yakni pada hari Senin Tanggal 16 Juni 2014. 
Hari Senin tanggal 16 Juni 2014, Kepala KUA Kecamatan Gedebage Kota Bandung bersama seluruh staf, bersiap di kantor sebagaimana biasanya. Kebiasaan masuk kantor pada hari itu dibumbui dengan keluarbiasaan karena diketahui bersama bahwa akan ada kunjungan Tim Penilai dari Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat. Masuknya KUA Kecamatan Gedebage dalam nominator KUA Teladan Tingkat Provinsi Jawa Barat merupakan momentum yang tidak hanya disyulkuri oleh Kepala KUA dan para staf saja, akan tetapi disyukuri pula oleh segenap masyarakat Kecamatan Gedebage dan seluruh mitra kerja KUA dalam peran dan fungsinya membangun religiusitas kehidupan masyarakat. Kebersyukuran dan kebanggaan itu di refleksikan dengan hadirnya unsur masyarakat diantaranya MUI, IPHI, UPZ, KKDT, KKMT. Dari unsur pemerintahan diantaranya para Lurah Se-Kecamatan Gedebage, Kepala Puskesmas, Kapolsek, Koramil dan tidak ketinggalan Bapak Camat Gedebage Bapak H. M. Zam zam Nurzaman, M.Si. Dari unsur Kementerian Agama, hadir  30 Kepala KUA se-Kota Bandung, Bapak Mimin Sutisna , M.Ag (Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Bandung), Bapak Drs. H. Cecep Kosasih, MM (Kepala Kemenag Kota Bandung) dalam acara penilaian KUA Gedebage sebagai KUA Teladan oleh Tim Penilai KUA Teladan Tingkat Provinsi Jawa Barat. 
Dalam menyambut kehadiran Tim Penilai, disampaikan sambutan dan ucapan selamat datang oleh Kepala KUA Kecamatan Gedebage, yang sekaligus menyampaikan uraian singkat tentang program dan kegiatan yang menjadi tugas dan fungsi KUA Kecamatan Gedebage. Sambutan lainnya juga disampaikan Bapak Camat kecamatan Gedebage yang dalam isi sambutannya menyampaikan apresiasi dan kebanggan yang sangat besar atas masuknya KUA Kecamatan Gedebage sebagai nominator KUA Teladan Tingkat Provinsi Jawa Barat. Bapak camat bahkan berharap status KUA Kecamatan Gedebage yang diharapkan meraih Juara I dalam penilaian ini, dapat mengakselerasi pembangunan Kecamatan Gedebage di segala bidang baik Rohani maupun Jasmani, inprastruktur dan pembangunan budaya serta moral kehidupan yang berbasis pada nilai-nilai Islam. 
Sedangkan dari Kementerian Agama Kota Bandung, sambutan disampaikan oleh Kepala Kementerian Agama Kota Bandung yang mengemukakan kebahagiaan dan menyampaikan harapan agar KUA Kecamatan Gedebage sebagai perwakilan Kementerian Agama Kota bandung bisa meraih prestasi yang tertinggi dalam momen penilaian KUA Teladan Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2014 ini. Sambutan terakhir disampaikan oleh Bapak Dr. Hidayat Munandar, M.Si. Atas nama Tim Penilai beliau menyampaikan indikator dan unsur-unsur yang dinilai dalam penilaian KUA Teladan pada tingkat Provinsi jawa Barat.  Beberapa  unsur diantaranya antara lain :
1. Maksimalisasi pemanfaatan Teknologi Informasi (Sistem Informasi/SIMKAH)
2. Program Kerja dan Kegiatan yang tersusun
3. Kelengkapan fasilitas layanan 
4. Tata Kelola Dokumentasi dan Kearsipan
5. dll

Pasca sambutan, kegiatan penilaian dimulai dengan peninjauan lapangan. Terselip dalam rangkaian penilaian tersebut, wawancara tim penilai dengan para staf  tentang tugas dan fungsi masing-masing. 
Banyak hal penting yang bisa diambil dari kunjungan Tim Penilai KUA Teladan Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat ke KUA Kecamatan Gedebage. Masukan positif telah kami tandai, saran-saran konstruktif telah kami kantongi untuk selanjutnya kami jadikan bahan dalam memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sesungguhnya penilain bukanlah suatu kegiatan untuk mengeksploitasi kekurangan dan kelemahan, namun ia  merupakan satu anak tangga yang mendorong kaki untuk melangkah pada anak tangga lain yang lebih tinggi. 
 
KUA Kecamatan Gedebage, KUA Teladan Jawa Barat 2014 !  BISA !!!!!
  

Anjuran Menikah

Anjuran Untuk Menikah

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan, mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (meminang), cara mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberi nafqah), dan pembagian harta waris, semuanya telah diatur dalam Islam secara terperinci, dan detail. selanjutnya untuk memahami konsep pernikahan dalam islam, maka rujukan yang paling benar dan sah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. maka berdasarkan rujukan ini kita akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di dalam masyarakat kita.
Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkannya. karena nikah merupakan “Gharizah Insaniyah” (naluri kemanusiaan).
Allah Ta’ala berfirman :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kapada Agama (Allah). (tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Ruum : 30)

• Islam Menganjurkan Menikah
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan sangat besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan yang kuat. Allah Ta’ala Berfirman :

….. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (QS. An-Nisa : 21)

Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :
“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh agamanya. dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dengan memelihara yang separuhnya lagi”. (HR. At-Thabrani di kitab Mu’Jamul Ausath)

• Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras orang yang tidak mau menikah.

Anas bin Malik berkata Rahimahullah, berkata : “Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda : “Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. karena aku akan berbangga dengan banyaknya ummatku di hadapan ummat-ummat lain”. (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Pernah suatu ketika. tiga orang sahabat datang dan bertanya kepada isteri-isteri Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang peribadatan yang beliau lakukan. kemudian setelah diterangkan, maka masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. salah seorang diantara mereka berkata : “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”, sahabat yang lainnya berkata : “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya” … dan ketika hal tersebut didengar oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau pun bersabda :

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu … Sungguh demi Allah. Sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian. akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. maka barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi)

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menikah. dan seandainya mereka fakir niscaya Allah Ta’ala akan membantudengan memberikan rizqi kepada mereka. dan Allah menjanjikan pertolongan kepada orang-orang yang menikah.
Allah Ta’ala Berfirman :

Dan Nikahkan lah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (Menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan yang wanita. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah maha luas (Pemberiannya) lagi maha mengetahui”. (QS. An-Nuur : 32)

Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam, bersabda :

Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapatkan pertolongan Allah. yaitu Mujahid Fi Sabilillah, Budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Al-Hakim

Ghibah - Menggunjing Sesama

Ghibah - Menggunjing Sesama
Ghibah adalah Perbuatan yang tercela dan memiliki dampak negatif cukup besar bagi umat Islam. Sebab dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia.

Seseorang yang berbuat Ghibah berarti dia telah menebarkan kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat. Walaupun telah jelas besarnya bahaya Ghibah, namun masih banyak orang yang melakukannya dan menganggap remeh bahaya menggunjing.

Diceritakan dalam rangkaian Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW melewati suatu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka sendiri dengan kukunya. Nabi bertanya kepada malaikat Jibril yang mendampinginya waktu itu, "Apa itu Jibril?". Malaikat penyampai wahyu Allah itu menjawab, "Itulah gambaran orang yang suka menggunjing sesamanya (Ghibah)".

Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau aib orang lain atau menyebut masalah orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi.

Dalam Alquran, Allah SWT mengibaratkan Ghibah dengan "memakan daging mayat saudara sendiri". Seperti disebutkan dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Meskipun kejelekan atau kekurangan orang lain itu faktual, benar-benar terjadi alias sesuai dengan kenyataan, tetap saja itu Ghibah.

Dalam hadis Rasulullah SAW berikut menyebutkan: "Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci." Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya?" Rasulullah menjawab, "Kalau memang benar ada padanya, itu Ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada)." (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Sementara ada Ghibah yang diperbolehkan seperti disampaikan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin, bahwa Ghibah hanya diperbolehkan untuk tujuan syara' yaitu yang disebabkan enam kriteria yaitu:
  1. Orang yang mazhlum (teraniaya), 
  2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar, 
  3. Istifta' (meminta fatwa) akan sesuatu hal, 
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan, 
  5. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bidah, dan 
  6. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Bukan untuk tujuan menghina. 
(Oleh: Mimin Sutisna, S.Ag. Kepala Seksi Penerangan Agama Islam pada Masyarakat pada Kantor Kementerian Agama Kota Bandung).

Sumber: klik-galamedia.com